Media Jangan Sampai Dimanfaatkan Oleh Gerakan Radikalisme

IMG_20170619_162227-640x480

JurnalNusantara.com – Gerakan radikalisme yang selalu muncul dengan pernyataan sikap yang sensasional dan kontroversial, ironisnya pernyataan ini yang seringkali dicari media. Sementara gerakan ini punya tujuan sengaja agar mendapat liputan media sebanyak mungkin.

Pernyataan ini disampaikan Agus Sudibyo, Ketua Program Study Komunikasi Massa ATVI dalam acara silaturahmi SMCE (Social Media for Civic Education) dan buka puasa bersama insan media dengan tema Membangun Kebebasan Pers yang Berlandaskan Nilai Pancasila dan Terbebas dari Gerakan Radikalisme, Senin (19/6/2017) di Gedung Dewan Pers Jakarta.

“Media tanpa menyadari dimanfaatkan oleh gerakan radikalisme. Saya ingatkan hati-hati dalam mengutip pernyataan yang provokatif. Tanpa disadari kita sudah masuk perangkap mereka. Saya harap media bersikap kritis terhadap pernyataan narasumner yang bersifat provokatif.” ujar Agus.

Dalam membuat berita, lanjut Agus, jangan asal mengutip dan percaya pernyataan narasumber begitu saja. Pemahaman netralitas media perlu juga dilakukan pembenahan, artinya jika pernyatan narasumber mengandung provokatif tidak harus dimuat. Dalam hal ini diperlukan kedewasaan dari wartawan dalam menulis

Haroqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten menilai beragai pendekatan mulai dilakukan oleh pemerintah dalam membendung berita hoax misalnya melalui fatwa MUI yang gaungnya lebih baik dan cepat dibandingkan UU ITE.

“Saya harap makin banyak organisasi kemasyarakatan berbuat seperti ini sehingga semakin kecil munculnya berita hoax. Ini bukan kepentingan pemerintah saja, tetapi semua harus menyuarakan.” tegas Haroqo.

Orang yang menyebarkan konten di sosial media ini, tambah Haroqo, motifnya bermacam-macam. Tujuannya sama agar pemerintah fokus terhadap masalah konten yang disebarkan melalui media sosial. Meski demikian, ada sisi manfaatnya, asal pengguna media mampu menjadi produsen. Misalnya dengan teknologi yang ada pada ponsel, pengguna ponsel bisa menjadi produsen video yang berkualitas.

Sementara itu, Yosep Adi Prasetyo, Ketua Dewan Pers mengaku upaya dewan pers dalam mengatasi hal ini yaitu sudah berusaha mengembalikan otoritas kebenaran.

“Kominfo telah memblokir sebanyak 773.339 media sosial. Laporkan berita hoax ke data.turnbackhoax.id” pungkas Yosep. (my)

 

 

 

 

 

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *