Hampir Punah, Tradisi Betawi Kembali Dikemas

IMG-20170807-WA0054-360x640_crop_360x394

JurnalNusantara.com – Tradisi masyarakat Betawi masa lampau yang nyaris punah, saat ini dikemas kembali secara apik dan bernuansa religius culture yang memadukan nilai-nilai keagamaan dalam budaya secara proporsional dan menghindari penyimpangan makna maupun filosofi dari Ngarak Barong itu sendiri.

Demikian disampaikan Majayus Irone, yang biasa disapa Aki Maja, Sutradara & Budayawan Betawi didampingi H.Yusuf HS Ketua Panitia Lebaran Betawi Pondok Melati dan Sarin Sarmidi Ketua Koasi (Komunitas Orang Bekasi) di dekat panggung utama Yasfi Pondok Melati Bekasi, Sabtu (5/8/2017).

Selanjutnya Majayus Irone menjelaskan Ngarak Barong merupakan kegiatan parade masyarakat yang dilakukan setelah lebaran hari pertama maupun hari kedua. Ngarak Barong biasanya dilakukan setelah lebaran memasuki minggu pertama dan seterusnya dengan tujuan menjalin silaturahmi lebih luas kepada sanak famili, saudara dan handai taulan yang belum bertemu pada lebaran hari pertama.

“Dalam prosesi Ngarak Barong, ada sepasang muda-mudi yang berhias pakaian Betawi Asli diiring oleh sepasukan Jawara, diantaranya membawa Cepu, sebagai wadah untuk menampung kue-kue maupun buah-buahan dan penganan ringan dari masyarakat yang dilalui rombongan Ngarak Barong sebagai tanda ikut berbagi harta yang mereka miliki sebagai tanda syukur atas karunia Tuhan bahwa tahun ini sudah diberi kesempatan menikmati Lebaran.” jelasnya.

Sementara itu H.Yusuf HS, Ketua Panitia Lebaran Betawi Pondok Melati menambahkan bahwa dalam rombongan tersebut turut pula sepasang Barong, orang/patung/boneka yang dirias dan memakai kedok/topeng dengan karakter wajah yang tidak lazim (seram, menakutkan, jawara dsb) sebagai perwujudan dari makhluk astral yang fungsinya sebagai pengawal dan penolak bala gangguan maupun kejahatan atas berjalannya prosesi tersebut. Konon dahulu kala, Barong-Barong tersebut menjadi semacam ikon yang ditakuti namun kehadirannya sangat ditunggu oleh masyarakat.

“Ngarak Barong dimaknai pada parade Lebaran Betawi sebagai ungkapan kebahagiaan karena lebaran tahun ini dapat berlangsung dengan tenang, damai tanpa kendala apapun dan masyarakat hidup dalam keadaan serba berkecukupan baik sandang, pangan maupun papan.” imbuhnya.

Sedangkan Sarin Sarmidi Ketua Koasi (Komunitas Orang Bekasi) mengungkapkan bahwa rombongan Ngarak Barong yang membawa penganan yang sudah terkumpul selanjutnya menuju suatu tempat yang sudah ditentukan, biasanya pelataran rumah seorang tokoh, tanah lapang dan jalanan untuk menyerahkan dan meletakkan seluruh hadiah yang diperoleh disepanjang perjalanan. Kemudian seorang santri, ulama, kyai, ustadz memberikan wejangan dan selanjutnya membacakan doa selamat dan diamini oleh hadirin, setelah doa selesai setiap orang boleh mengambil dan memakan penganan sesuai selera. (handoko)

 

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *