Siswa Magang Pergi Berlayar Hilang Kontak, Belum Diketahui Penyebabnya

orang tua Baltasar SH Koten
orang tua Baltasar SH Koten

JurnalNusantara.com – Suasana sedih menyelimuti perasaan Valentinus Mami Koten, orang tua Baltasar SH Koten, siswa Bina Maritim Maumere, Flores NTT yang hilang kontak dengan keluarganya setelah kepergiannya berlayar untuk kerja magang dalam rangka memenuhi tugas sekolahnya. Menurut keterangan Valentinus, anaknya berangkat bersama 8 anak lainnya menggunakan kapal barang Harapan Sejahtera GT-305 pada 22 September 2017 lalu bertolak dari pelabuhan Gresik menuju Kalimantan.

“Anak saya ini kan praktek untuk memenuhi kewajiban sekolah di Bina Maritim Maumere,” ujar Valentinus, saat ditemui di kawasan Kota Tua Jakarta, Senin (26/2/2018).

Valentinus dalam pemaparan kronologisnya mengatakan, dalam perjalanan praktek, mereka diwajibkan untuk karantina selama 10 hari dengan tujuan untuk mendapatkan BSD dan buku pelaut. Setelah mendapatkan BSD dan buku pelaut, mereka dibiarkan untuk mencari kapal sendiri. Dalam perjalanannya, anak saya menggunakan kapal Harapan Sejahtera yang ditumpanginya berlayar dari Gresik ke Kalimantan.

Selanjutnya, dalam perjalanan, kapal bocor sehingga kapal kembali ke pelabuhan. Satu hari setelahnya, kapalnya berangkat kembali pada tanggal 22. Sebelum kapal berangkat, yang mengendarai orang kepercayaan perusahaan pelayaran tersebut. Setelah 4 jam bertolak dari pelabuhan, kapal hilang kontak dan kapal tersebut tidak ditemukan sampai hari ini.

“Sampai saat ini kami juga belum tahu apakah kapal tersebut terindikasi karam atau dibajak. Kedatangan kami ke perusahaan untuk mengecek akar permasalahannya mengapa kapal itu raib begitu saja,” ucap Valentinus.

Kami ingin bertanya kepada perusahaan, alasan apa keep dan Bagas itu turun dari kapal. Lalu yang membawa kapal itu atas perintah dari siapa. Menurut pengakuan perusahaan, dalam kapal itu kan 9 orang, 8 orang sudah menerima santunan. Dan saya meminta kedelapan orang itu dihadirkan dan santunannya seberapa besar. Lalu santunannya dalam hal apa karena kami sendiri belum tau kronologi kejadian hilangnya kapal barang Harapan Sejahtera GT-305 tersebut.

Setelah kejadian tersebut, tambah Valentinus, anehnya perusahaan tidak melaporkan kepada orang tua, sehingga kami menghubungi pihak sekolah yang mengutus siswa itu, lalu kepala sekolahnya menghubungi perusahaan yang bersangkutan. Namun yang sangat disesalkan adalah pihak perusahaan tidak pernah menghubungi saya. Oleh karena itu, saya mohon kepada instansi yang terkait dengan peristiwa ini turut terlibat langsung. Menurut rencana, Valentinus akan melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian untuk membantu melacak keberadaan anaknya.

Emil Da Cunha, Ketua Yayasan Bina Maritim Maumere
Emil Da Cunha, Ketua Yayasan Bina Maritim Maumere

Sementara itu, Emil Da Cunha, Ketua Yayasan Bina Maritim Maumere, Flores NTT mengaku baru mendapat kabar tersebut dari Valentinus. “Kita juga baru tau informasi ini dan informasi rinci belum pernah saya dapatkan. Untuk menghindari kejadian serupa, kami akan melakukan pembinaan.

Ia berharap kepada pemerintah dan pihak perusahaan agar mengutamakan perlindungan keselamatan terhadap pelaut-pelaut. Tidak hanya sekedar mereka memberikan santunan, tetapi tanggung jawab terhadap keluarga untuk memberikan penjelasan harus dilakukan.

“Kita tidak butuh santunan, namun butuh kejelasan dimana anak tersebut. Dengan santunan yang diberikan, artinya kita mengamini anak tersebut meninggal. Hak-hak anak walaupun siswa praktek harus diperhatikan,” ungkapnya. (red)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *