Fahriadi, Korban Kriminalisasi Kasus Pembakaran Sekolah di Palangkaraya

Pos-88-300x169
JurnalNusantara.com – Terdakwa Fahriadi alias Ogut merupakan korban kriminalisasi dalam kasus dugaan pembakaran Sekolah di Kota Palangkaraya. Demikian disampaikan Tim Advokasi Penasehat Hukum terdakwa, yang terdiri dari Rezekinta Sofrizal SH, MH, Direktur Eksekutif LBH Pendidikan Indonesia dan Erman Umar SH, Ketua LBH Kongres Advokat Indonesia kepada wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar), Rabu (4/4/18).

“Hari ini sidangan lanjutan Perkara Pidana No. 2171/Pid.B/2017/PN.Jkt.Brt, atas nama terdakwa Fahriadi , dalam kasus dugaan pembakaran sekolah yang terjadi di Kota Palangkaraya, Kembali di gelar dengan agenda pemeriksaan terdakwa,” kata Tim Advokasi Penasehat Hukum terdakwa.

Dikatakan pada persidangan sebelumnya, Rabu (21/3/18), dihadapan Ketua Majelis Hakim yang diketuai Rustiyono SH dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ari Wibowo Yulianto SH, Tim Advokasi Penasihat Hukum Terdakwa Fahriadi, telah menghadirkan sebanyak 5 orang saksi ade charge (saksi yang meringankan).

“Ada yang menarik dalam persidangan pemeriksaan saksi a de charge pada tanggal 21 Maret 2018 yang lalu, dimana persidangan Perkara Pidana No. 2171/Pid.B/2017/PN.Jkt.Brt, dengan Terdakwa Fahriadi tersebut digelar secara bersama-sama dengan Perkara Pidana dengan Terdakwa lain,” jelas Tim Advokasi. tardakwa.

Lebih lanjut Tim Advokasi terdakwa menyampaikan, saksi a de charge yang dihadirkan dalam persidangan diantaranya, Saksi Mery Anita sebagai Pengurus KONI (Komite Olah Raga Nasional Indonesia), Saksi Gading sebagai Sekretaris KONI, Yesaya, Darli L Mangkin (Pendeta Sayang) dan Yustinus sebagai keamanan rumah Betang (Rumah Adat Dayak).

Menurut Tim Advokasi Penasehat Hukum terdakwa menyatakan, dari ke 5 orang (lima) saksi a de charge yang dihadirkan oleh Tim Penasihat Hukum terdakwa Fahriadi, 2 orang diantara saksi yang dihadirkan guna memberikan keterangan sebagai saksi fakta dalam persidangan mengenai apakah ada pertemuan antara Terdakwa Fahriadi dengan Para Terdakwa lain pada tanggal 30 Juni 2017 di Kantor KONI, untuk merencakanakan Pembakaran sekolah sebagaimana di dalam Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Sedangkan 3 orang saksi lainnya dihadirkan guna memberikan keterangan apakah ada pertemuan di Rumah Betang (Rumah Adat Dayak) antara Terdakwa Fahriadi dengan Para Terdakwa lain sebagaimana di dalam Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum.

“Didalam persidangan terungkap bahwa para saksi tidak mengenal Terdakwa Fahriadi. Selain itu juga terungkap fakta di persidangan bahwa Saksi Mery Anita selaku Sekretaris KONI, tidak pernah mengatakan kepada penyidik bahwa ada pertemuan di gedung KONI pada tanggal 30 Juni 2017 dengan Terdakwa sebagaimana Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum,” ungkap Tim Advokasi terdakwa.

Selain itu menurut dia, tidak adanya pertemuan di gedung KONI pada tanggal 30 Juni 2017, juga ditegaskan oleh Saksi yang bernama Gading, sebagai Keamanan Gedung KONI, yang menyatakan, bahwa tanggal 30 Juni 2017, masih suasana libur Hari Raya Idul Fitri, sehingga tidak ada aktifitas di Gedung KONI.

“Yang ajaibnya, dalam berkas perkara ada rekonstruksi pertemuan di Kantor KONI dimana saksi Mery Anita di perankan oleh orang lain. Atas berkas perkara rekonstruksi tersebut, Saksi Mery Anita merasa keberatan,” kata Tim Advokasi terdakwa.

Demikian juga dengan keterangan Saksi Darli L Mangkin (Pendeta Sayang), dalam persidangan menerangkan bahwa tidak pernah bertemu dengan Terdakwa Fahriadi baik di Rumah Betang sebagai Rumah Adat Dayak, maupun di mana pun, karena Saksi Darli L Mangkin tidak mengenal Terdakwa Fahriadi . Berbeda halnya dengan keterangan yang ada didalam berkas perkara, disebut juga nama Saksi Darli L Mangkin yang mengatakan bahwa ada pertemuan dengan Terdakwa Fahriadi Alias Ogut di Rumah Betang, bahwa hal tersebut menurut saksi tidak benar dan Saksi tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada penyidik.

“Tidak pernah adanya pertemuan antara Saksi Darli L Mangkin (Pendeta Sayang) di Rumah Betang, juga di perkuat oleh Saksi Yesaya dan Saksi Yustinus sebagai Petugas Keamanan Rumah Betang,” tegas Tim Advokasi terdakwa.

Menurut Tim Advokasi Penasehat Hukum terdakwa dari Keterangan Para Saksi yang dihadirkan dalam persidangan sangat jelas bahwa Para Saksi tidak mengenal Terdakwa Fahriadi dan tidak ada pertemuan di Gedung KONI dan di rumah Betang pada tanggal 30 Juni 2017 dengan Terdakwa untuk merencanakan pembakaran sekolah.

“Hal tersebut membuktikan bahwa berkas perkara Fahriadi Alias Ogut dibuat sangatlah manipulatif dan mengada-ada. Jaksa Penuntut Umum pun, tidak pernah menghadirkan barang bukti apapun sebagai fakta persidangan sebagaimana dalam Surat Dakwaannya untuk membuktikan bahwa Terdakwa Fahriadi adalah pelaku pembakaran SDN 4 Langkai Kota Palangkaraya,” tegas Tim Advokasi Penasehat Hukum terdakwa.

Dijelaskan, terdakwa Fahriadi Alias Ogut, adalah korban kriminalisasi yang dilakukan oleh Institusi Polres Palangkaraya, fakta tersebut dapat dilihat didalam Berita Acara Pemeriksaan Fahriadi, yang menyatakan bahwa Terdakwa Fahriadi pada saat sekolah terbakar ikut membantu membuka gerbang sekolah dengan warga sekitar yang lain, agar pemadam kebakaran dapat masuk ke Sekolah untuk memadamkan kobaran api yang telah membakar sekolah.

“Kasus dugaan pembakaran sekolah di Kota Palangkaraya, yang menyebabkan terdakwa Fahriadi,menjadi korban kriminalisasi sangatlah aneh dan menimbulkan pertanyaan dari masyarakat setempat, karena sebagai masyarakat yang turut membantu memadamkan kebakaran justru dijadikan tersangka, hingga kini menjadi pesakitan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Hal tersebut merupakan salah satu potret buram terhadap keberlangsungan peradaban hukum di Indonesia, ” tegas Tim Advokasi terdakwa.

Pada persidangan Rabu (4/4/18), Tim Advokasi Fahriadi meminta kepada Mejelis Hakim agar diadakan pemeriksaan Saksi Alibi terhadap Yadi sebagai saksi yang dapat memberikan keterangan di dalam persidangan, bahwa pada waktu terjadi kebakaran di SD, Terdakwa Fahriadi bersama masyarakat ikut membantu pemadam kebakaran dalam memadamkan api yang telah membakar SD 1 Langkai.

“Hal tersebut sangat penting kami nilai, sebagai bahan pertimbangan Majelis Hakim dalam memutus perkara terdakwa, karena hal tersebut sangat penting guna mematahhkan/ membantah Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang mendakwa mendakwa Klien kami sebagai pelaku Pembakaran SD 4 Langkai, dan membuktikkan bahwa Terdakwa Fahriadi tidak terlibat melakukan pembakaran sekolah. (Antonius)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *