Pemahaman Keliru Soal Jihad Jadi Faktor Utama Aksi Terorisme

IMG_20180525_160630-1152x648-864x486
JurnalNusantara.com – Modus aksi terorisme bom bunuh diri yang melibatkan anggota keluarga akhir-akhir ini sangat mengejutkan publik. Berdasarkan penelitian Center for the Studi of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan bahwa benih-benih radikalisme dan ekstremisme masih terus disemai disebagian anak muda milenial.

“Pemerintah, masyarakat, pesantren dan media justru semakin diperlukan sinergi dan kekompakan untuk melancarkan kontra narasi terhadap narasi ekstremisme dan memberikan narasi alternatif bagi masyarakat yang terpapar,” ucap Irfan Abubakar, MA, Direktur CSRC UIN Jakarta, dalam seminar, Jumat (25/5/2018) di Jakarta.

Menurutnya, Pendidikan yang salah dalam agama mengakibatkan rendahnya pemikiran kritis. Selain kurangnya perhatian dari keluarga, faktor krisis yang dialami oleh seseorang menjadikan dirinya terjun dalam aksi terorisme.

Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME, Direktur Pencegahan Terorisme BNPT mengungkapkan, berdasarkan penelitian, pemahaman yang keliru soal jihad yang menurut mereka adalah perang menjadi faktor tertinggi dalam aksi terorisme.

“Pemahaman yang keliru tersebut sangat membahayakan. Oleh karena itu, kita perlu meluruskan ideologi tersebut karena agama dimanfaatkan oleh mereka,” ujarnya.

Sementara itu, KH Jazilus Sakhok, PhD, Koordinator Aliansi PIP/PP Sunan Pandanaran menilai, realitas penerapan agama saat ini tidak dilakukan secara komprehensif yang akhirnya terjadi proses pendangkalan keagamaan. Oleh karena itu, ini merupakan tugas bersama khususnya pesantren yang memiliki peran luar biasa dalam memberikan pelajaran secara komprehensif.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE, Guru besar UIN Jakarta menghimbau agar masyarakat menjauhkan diri dari adanya pikiran-pikiran lain terkait aksi terorisme, misalnya menuding aksi terorisme sebagai aksi rekayasa. Namun ia menyarankan agar melihatnya secara komprehensif.

“Jangan mengembangkan pikiran rekayasa. Yang perlu diciptakan adalah Indonesia damai. Jagalah Indonesia ini, dan jangan ikut-ikutan.,” ujarnya. (my)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *