Film LIMA, Johnnie : Kebenaran Jangan di Paksakan Tapi Harus di Biarkan.

IMG-20180612-WA0016

Jurnalnusantara.com – Banyak masyarakat mengartikan arti dari sebuah film yang berjudul LIMA. Ada yang menyebutkan LIMA itu adalah kebhinekaan yang ada pada dasar negara Pancasila, namun ada juga yang mengartikan LIMA itu sebuah karya dari lima sutradara di film tersebut yakni, Lola Amaria, Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriansyah dan Adriyanti Dewanto.

Akan tetapi pandangan dari Jurnalnusantara.com usai melihat film LIMA, film yang dibintangi Prisilla Nasution ini sang lima sutradara ingin menceritakan kepada seluruh warga negara Indonesia bagaimana membumikan Pancasila ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, serta membangun narasi positif untuk melawan arus radikalisme yang berpotensi merusak kebhinekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Momen nobar yang dibangun President Director EL-JOHN Indonesia, Johnnie Sugiarto ini diharapkan menambah rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Apalagi, saat ini marak terjadi intoleransi sehingga dibutuhkan cara-cara jitu untuk menumbuhkan rasa persatuan.

“Kasihan sekali masyarakat yang ingin hidup bersama dalam kebhinekaan. Maka untuk itu, kami ingin mendorong masyarakat khususnya generasi muda bangsa negara kita untuk menyaksikan Film LIMA ini,” kata Johnnie saat dihubungi wartawan belum lama ini di Jakarta.

Johnnie menegaskan generasi muda kedepannya harus lebih mengetahui sejarah kebersamaan bangsa Indonesia. Jangan sampai generasi muda sangat mudah untuk terkotakkan. Untuk itu, lanjut Dia, jangan sampai juga generasi muda apa yang ditonton selain film LIMA ini dirinya merasa lebih benar sendiri dari pada yang lainnya. “Hal seperti itu dampaknya kurang bagus,” ungkapnya.

Johnnie menambahkan, dalam sebuah film masyarakat terlebih generasi muda harus mengetahui ceritanya dari mana asal muasalnya, yang menimbulkan pertanyaan kenapa harus dan mesti bersatu. ” Mestinya kita jangan ngotot cuman satu aja kebenaran yang mestinya kebenaran itu harus digali dengan betul-betul dari sejarah budaya bangsa kita sendiri yang harus diangkat,” imbuhnya.

Oleh karenanya, mindset masyarakat harus diberikan pengetahuan yang lebih luas. Sehingga mereka bisa menilai sendiri mana yang benar mana yang harus diikuti. Jadi, menurut Johnnie, jangan sampai di monopoli dengan satu pihak yang memaksakan pendapatnya. “Sehingga masyarakat dan khususnya anak muda yang menangkapnya, seolah-olah kebenaran tersebut yang jadi dasar patokan dalam pemikirannya,” tuturnya.

Dalam film LIMA inilah, kata Dia, dibuat dengan review mengangkat pada kebenaran itu. Kebenaran itu jangan dipaksakan tetapi harus dibiarkan. Sehingga mereka sadar setelah mengetahui ternyata kebenaran itu ada ini dan itu, yang dituangkan dalam sebuah film dengan sangat bagus ini.
“Banyak dimensi-dimensi yang bisa diangkat di film LIMA tentang bagaimana sejarah, bagaimana perbedaan itu bisa menjadi kekuatan, serta bagaimana sebuah keindahan muncul dari perbedaan,” pungkasnya.

“Jadi didalam film LIMA ini mengajarkan pada kita masih ada kesempatan semua orang untuk berbuat yang terbaik mencari kebenaran dengan mempelajari sejarah bangsa ini. Sebab banyak pejuang-pejuang dan pahlawan kita di setiap daerah sangat luar biasa semangat pengabdiannya terhadap NKRI,” tandasnya. (SR)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *