Pilpres 2019: Harapan Publik Yang Sama Cenderung Dirusak Oleh Marketing Politik

IMG-20180813-WA0011_crop_742x475

Jurnal Nusantara.com – Pasangan calon presiden dan wakil presiden RI periode 2019-2024 yaitu Joko Widodo – Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno memulai babak baru dalam pertarungan ide dan gagasan serta prestasi demi merebut hati rakyat.

Menyoal pasangan Jokowi, Natalius Pigai, mantan anggota Komnas HAM mengaku sejak pemerintahan Jokowi, setiap langkah perjalanan politik Jokowi selalu diikutinya terutama soal pembangunan. Menurutnya, organisasi Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang berpengaruh besar, membuat Jokowi melirik tokoh yang ada dalam organisasi tersebut. Nama Mahfud MD yang sebelumnya dijagokan, namun darah NU masih kurang. Dengan hadirnya Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi diharapkan mampu memberikan amunisi segar dan menjadi integrator antara pemerintah dan rakyat terutama komunitas Islam.

“Jokowi itu paling hebat dalam berpolitik, orang yang tulus dan terbiasa dalam membangun Indonesia. Hal ini bisa dilihat ketika Jokowi mampu membangun citra di masyarakat sehingga bisa dirasakan,” ujar Pigai dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh Kaukus Muda Indonesia (KMI) di Jakarta, Jumat (10/8/2019).

Dalam kesempatan yang sama, Karyono Wibowo, Pengamat Politik berpendapat, jika merujuk pada hasil survei harapan publik terhadap pilpres adalah cenderung sama. Terhadap kandidat siapapun, publik menginginkan yaitu soal ekonomi yang mengharapkan bisa memperbaiki situasi ekonomi yang baik dan membangun kebijakan ekonomi yang lebih menyejahterakan.

“Yang paling diharapkan oleh masyarakat terutama tersedianya lapangan kerja selain penegakan hukum yang adil dan keamanan yang stabil,” jelas Karyono.

Namun ironisnya, tambah Karyono, harapan yang sama seringkali terjebak oleh problem marketing politik yang kerap menghancurkan substansi. Memang dalam sistem politik saat ini sulit menghindari marketing politik karena masing-masing partai ingin merebut hati rakyat.

Sementara itu, Arif Susanto, pengamat politik lainnya mengatakan, pada pilpres 2019 ini Jokowi dihadapkan pada beberapa kepentingan untuk memenuhi janji politik pada saat 2014 dimana Jokowi mendapat tekanan politik dari dua kubu yaitu KIH dan KMP. Menghadapi situasi tersebut pada pilpres 2019 ini, Jokowi segera melakukan penuntasan pekerjaan untuk memenuhi janji-janji politik 2014 dan menciptakan stigmatisasi politik yang dialamatkan kepada musuh-musuh Politiknya. (my)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *