Unindra Akan Mewisuda 6500 Lebih Lulusan Dalam 5 Tahap

IMG-20180912-WA0003
JurnalNusantara.com – Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) kembali melaksanakan prosesi wisuda ke-62 yang diikuti sebanyak 1349 wisudawan terdiri atas 1153 program S1 dan 196 program S2. Rektor Unindra, Prof. Dr. H. Sumaryoto mengatakan, mengingat jumlah mahasiswa yang cukup banyak yang sampai saat ini mencapai 36.455 mahasiswa maka lulusan diperkirakan mencapai 6500 lebih sehingga akan dilakukan wisuda sebanyak 5 kali hingga Nopember 2018 ini.

“Perlu saya sampaikan bahwa pada saat berdiri 6 September 2004, mahasiswa kita baru 4155 mahasiswa dan sekarang sudah mencapai 36 ribu lebih. Oleh karena itu, secara bertahap kami konsisten, taat azas dan taat pada peraturan tentang rasio dosen, dengan demikian secara berkelanjutan kita terus merekrut dosen. Kalau toh masih ada kekurangan karena semata-mata sedang berproses bukan karena kelalaian kita,” tutur Sumaryoto, dalam pidatonya ditengah-tengan wisudawan, Rabu (12/9/2018) di TMII Jakarta.

Upaya ini, lanjut Sumaryoto, dilakukan oleh Unindra agar jangan sampai ada pemahaman yang keliru bahwa seolah-olah Unindra tidak peduli dengan peraturan-peraturan yang berlaku khususnya yang menyangkut persyaratan dosen. Dalam rangka meningkatkan kualitas dosen untuk memperoleh gelar doktor, Unindra juga mulai semester ini akan memberangkatkan sebanyak 45 orang dosen.

Terkait dengan infrastruktur, perguruan tinggi yang genap berusia 14 tahun tepat pada 6 September 2018 lalu dan bertepatan dengan diperolehnya pengakuan BAN-PT dengan status akreditasi B, akan membangun 2 unit gedung yaitu unit 8 dan 9. Sebelumnya, Unindra telah memiliki 7 unit gedung yaitu 6 unit berlantai 5 dan 1 unit berlantai 3.

“Unindra ke depan betul-betul pantas mendapat akreditasi B dan jangka panjang sesuai dengan visi kita, tahun 2029 kita ingin menjadi Perguruan Tinggi dengan status Excellent Teaching University,” jelas Sumaryoto.

Sementara itu, dalam orasi ilmiah berjudul Metafora Sebagai Inti Bahasa Dalam Abad XXI yang disampaikan oleh Zulfa Hanum dijelaskan bahwa pendapat tentang makna metafora hingga kini masih sangat kontroversi. Pemicunya adalah terkait dengan peran metafora itu sendiri dalam filsafat dan tentang hakikat filsafat itu sendiri.

Namun demikian, kata Zulfa, jika mempersoalkan metafora pada akhirnya berarti mengkaji ulang tentang hakikat bahasa secara keseluruhan maupun hakikat penggunaan bahasa itu sendiri. (my)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *