Ingin Mengetuk Hati Pejabat, Neno Warisman Luncurkan Lagu Kampung Bayam

IMG_20180914_170658-1152x648-460x259

JurnalNusantara.com – Sebagai seorang aktivis sosial pemberdayaan wanita dan anak-anak, melihat kondisi warga Kampung Bayam menjadikan keprihatinan tersendiri bagi Neno Warisman atau yang lebih sering dipanggil bunda Neno. Bersama Relawan Edu 111, bunda Neno selama setahun lebih sejak awal tahun 2017 hingga saat ini terus meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan materi, untuk mendampingi warga Kampung Bayam agar tetap tersenyum sembari merajut harapan.

“Saya berharap kita semua dapat menemukan solusi dalam rangka membantu Kampung bayam dan pemerintah supaya tidak pernah ada lagi masyarakat yang diabaikan dan ditinggalkan tetapi justru didengar kemauan hatinya, pikirannya dan perasaannya sehingga kita betul-betul bisa menjadi sebuah sinergi yang baik antara gerakan masyarakat, pemerintah dan relawan,” ujar Neno Warisman, saat melaunching lagu “Kampung Bayam” di Pendopo Kampung Bayam, Jumat (14/9/2018).

Lagu yang dibuat dalam waktu singkat selama 5 hari ini, tambah bunda Neno, diharapkan agar dapat mengetuk hati para pejabat pengambil keputusan, supaya realisasi janji Pemerintah Propinsi DKI Jakarta untuk membangunkan rumah deret di sekitar Taman BMW sebagai relokasi pemukiman seperti yang di harapkan warga Kampung Bayam. Upaya yang dilakukan Bunda Neno dan Relawan Edu 111 bersama-sama dengan warga berhasil menyulap Kampung Bayam menjadi Urban Farming yang memungkinkan dapat dijadikan tujuan agro wisata kota, yaitu; sebuah kampung di tengah kota yang memiliki kebun bayam yang menghasilkan bayam berkualitas.

IMG_20180914_170735-1152x648-460x259
Suryono, salah seorang pengurus di Kampung Bayam menceritakan bahwa warga Kampung Bayam yang tinggal di dekat bantaran rel Kereta Api sekitar kawasan Taman Bersih Manusiawi Berwibawa (Taman BMW), Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok Jakarta Utara, sebagian besar warganya adalah petani bayam. Kampung Bayam yang dihuni sekitar 535 kepala keluarga (KK) atau 2500 jiwa ini sudah ada sejak tahun 1980 dengan menempati lahan seluas 26,5 hektar. Awalnya hidup tentram dan berkecukupan. namun di akhir Agustus 2008 ketentraman hidupnya terusik oleh Buldozer Pemprov DKI Jakarta yang berhasil meratakan tanah rumah-rumah mereka dengan dalih penataan kota.

“Intinya Kami tetap akan berusaha bagaimana caranya warga Kampung Bayam bisa tetap hidup berdampingan dengan Stadion bertaraf Internasional. Dalam hal ini, kami juga sudah mengadakan pelatihan-pelatihan agar bisa hidup berdampingan dengan Stadion bertaraf Internasional,” ucap Suryono.

Suryono menambahkan, warga setuju jika akan direlokasi, namun warga sangat berharap agar Pemprov DKI jakarta dapat merelokasi mereka dengan membangunkan rumah deret tetap di sekitar Taman agar mereka masih bisa mengelola kebun bayam. (my)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *