Penderita Kanker Paru Wajib Mendapat Support

IMG_20181128_110825-1152x648-460x259
JurnalNusantara.com – Tingkat kematian yang disebabkan oleh kanker paru-paru yang mencapai 1,8 juta kematian dari 2,1 juta kasus kanker paru-paru pada 2018 di seluruh dunia. Di sisi lain perkembangan testing dan pengobatan telah berevolusi untuk mendapatkan hasil perawatan yang optimal pada semua jenis mutasi kanker paru-paru dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Hal ini mengindikasikan adanya problem di dalam akses pasien terhadap diagnostik dan pengobatan tersebut.

dr. Evlina Suzanna, SpPA (K), dokter spesialis Paru Rumah Sakit Kanker Dharmais mengakui bahwa ada beberapa kendala yang dihadapi oleh dokter dalam menangani penderita kanker paru diantaranya terkait diagnostik dan teknologi yang tidak mudah.

“Pengambilan sampel untuk diagnostik merupakan hambatan dalam penanganan kanker paru. Kedua, teknologi juga tidak mudah dan cukup rumit serta memerlukan keahlian khusus. Oleh karena itu dokter harus memerlukan training khusus,” ungkap Evlina, Rabu (28/11/2018) di Kuningan, Jakarta Selatan, dalam konferensi pers menyambut Bulan Peduli Kanker Paru, yang diselenggarakan oleh CISC (Cancer Information and Support Center).

Brigjen TNI dr. Alex Ginting S, Sp.P(K), dokter spesialis RSPAD Gatot Soebroto membenarkan bahwa harus ada sinergi dalam menegakan diagnostik. Selain itu, si pasien dalam menghadapi penyakit harus multi disiplin dan terintegrasi. Persoalan yang juga sering ditemukan adalah adanya delay dari pasien. Oleh karena itu, pasien harus punya prinsip untuk mengikuti prosedur pengobatan.

Dalam kesempatan yang sama, Indrodjojo Kusumonegoro (Indro Warkop), keluarga pasien kanker paru-paru mengatakan, kanker paru ini bukan hanya si penderita saja yang merasakan penderitaan, namun keluarga juga. Indro menyarankan untuk memberikan support kepada keluarganya dan memberi pemahaman bahwa yang membuat mati itu bukan karena kanker, tetapi kematian disebabkan karena dipanggil oleh Allah.

“Keluarga berperan penting dalam penderitaan si penderita kanker paru. Fungsi keluarga disini betul-betul mendampingi dan meyakini bahwa kita akan bisa melewati masa-masa penderitaan tersebut,” pungkasnya. (my)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *