Jelang Pilpres 2019, Kedua Kubu Mengklaim Raih Suara Milenial

IMG_20190109_145734-1152x648-460x259
JurnalNusantara.com – Meningkatnya suhu politik menjelang pemilihan presiden 2019 mendatang menjadi perhatian berbagai pihak. Pasalnya, kedua kubu baik dari pasangan capres-cawapres Jokowi-Maruf Amin maupun Prabowo-Sandi sama-sama mengklaim menang dalam perebutan suara calon pemilih.

Pengamat Politik IPI, Jerry Massie berpendapat, klaim dari kedua kubu dinilai sah-sah saja. Disisi lain, beberapa lembaga survei yang ikut menjagokan salah satu pasangan capres-cawapres, namun bukanlah sebagai jaminan.

“Untuk memenangkan pertempuran, kedua kubu harus memenangkan suara milenial. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara meracik dalam merebut suara milenial tersebut. Sebaiknya lakukanlah dengan cara-cara terpuji dan baik,” ujar Jerry, dalam diskusi publik Kaukus Muda Indonesia (KMI) dengan bertajuk “Membaca Peta Politik Menjelang Pilpres 2019”, Rabu (9/1/2019) di kantor KMI, Salemba, Jakarta Pusat.

Pendapat lain dikemukakan Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Michael Gorbachev. Menurutnya, ada sekitar 28 persen suara yang akan diperebutkan oleh Tim Kampanye Nasional maupun Badan Pemenangan Nasional yaitu suara dari kaum milenial, perempuan dan perkotaan.

“Meskipun beberapa lembaga survei menjagokan Jokowi, kami di PSI menyadari bahwa saat-saat injury time memang sangat berbahaya. Oleh karena itu kami selalu siaga dengan terus menambah relawan yang turun ke bawah,” jelas Michael.

Sementara itu, anggota tim advokasi Prabowo-Sandi, Yupen Hadi mengaku bahwa apa yang dilakukan tim Prabowo-Sandi dalam merebut suara di kantong-kantong wilayah Jokowi-Ma’ruf Amin merupakan salah satu upaya untuk meminimalisir ketertinggalan suara yang cukup jauh.

“Seperti diketahui, Jatim misalnya merupakan basis Jokowi. Oleh karena itu, kami berani membuka kantor tim pemenangan disana untuk memperkecil ketertinggalan suara yang cukup jauh,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hendri Satrio, Pengamat Politik Universitas Paramadina berpendapat, kalo bicara peta politik, setiap peristiwa politik tidak terlepas dengan adanya dua hal yaitu trend dan rekayasa. Persoalannya, mana yang dipercaya?

“Untuk menjawab hal ini, kita harus kembali kepada ilmu dasar politik dimana politik bisa dikatakan sebagai bisnis harapan. Siapa saja yang bisa menjual harapan, maka ia akan dipilih,” imbuhnya. (my)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *