Pebisnis Transportasi Online Diminta Waspadai Fraud

IMG_20190130_151918-1152x648-460x259
JurnalNusantara.com – Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 265 juta jiwa pada 2018 berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik telah menjadi daya tarik tersendiri bagi pebisnis di industri transportasi, khususnya industri transportasi online (ride-hailing) tumbuh subur akhir-akhir ini yakni Go-Jek, start-up unicorn asal Indonesia dan Grab, perusahaan penyedia Iayanan ride-hailing terbesar di Asia Tenggara.

Untuk mengetahui preferensi terhadap penyedia Iayanan transportasi online dari berbagai aspek, seperti consumer awareness, frekuensi penggunaan, dan preferensi dalam menggunakan Iayanan e-money1, belum lama ini Spire Research and Consulting, salah satu perusahaan riset terkemuka global yang berpusat di Tokyo. Jepang melakukan studi terhadap pengemudi dan konsumen.

“Temuan paling menarik dari studi kami adalah adanya kecurangan (fraud) yang cukup besar dan bagaimana pandangan para pengemudi (driver) terhadap hal tersebut,” ungkap Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, di Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Berdasarkan hasil survei Consumers’ Awareness yang dilakukan Spire Research and Consulting, sebanyak 75% dan 61% responden menyebutkan bahwa Grab merupakan merek (brand) yang mereka gunakan dalam 6 dan 3 bulan terakhir. Sementara itu, 62% dan 58% responden memilih menggunakan Go-Jek untuk kategori yang sama dalam 6 dan 3 bulan terakhir.

Melihat data tersebut, konsumen lebih banyak menggunakan Grab, setidaknya hingga kuartal 4/2018. Sebanyak 34% pengguna GrabCar, salah satu layanan dari Grab, menyebutkan bahwa mereka menggunakan layanan itu sebanyak 3-4 kali per minggu. Sementara itu, 25% pengguna Go-Car cenderung hanya menggunakan layanan sebanyak 1-2 kali dalam seminggu.

Di kategori roda dua, Go-Ride masih menjadi pilihan utama pengguna transportasi online. Dari total responden yang memilih Go-Ride, sebanyak 64% menggunakannya hingga 1-2 kali sehari, sedangkan pemilih GrabBike yang menggunakan 1-2 kali daIam sehari ada 58%. Sementara untuk layanan online food delivery, Go-Food masih memimpin. Sebanyak 35% responden menyebutkan bahwa Go-Food merupakan layanan yang paling sering mereka gunakan. Sementara 27% responden menyatakan memilih GrabFood.

Tumbuhnya permintaan online food delivery tak lepas dari gencarnya promosi yang dilakukan oleh para penyedia platform pembayaran. Merujuk pada hasil survei, rupanya OVO, aplikasi pembayaran yang digandeng Grab, unggul dalam pembayaran online to offline (020), seperti untuk membeli pulsa dan pembayaran di gerai-gerai non-makanan. Berbeda dengan OVO, Go-Pay, platform pembayaran milik Go-Jek, lebih sering digunakan di pembayaran kedai-kedai makanan-minuman (Go-Food) dan untuk membayar tagihan Iistrik melalui aplikasi Go-Jek.

Sayangnya, di tengah gegap-gempitanya bisnis transportasi online, tindak kecurangan (fraud) pun terjadi. Bahkan, dalam studi yang dilakukan Spire Research and Consulting, fraud di kalangan pengemudi (driver) sudah menjadi rahasia umum. Fraud menjadi isu tersendiri. Di satu sisi, fraud dapat menyebabkan kerugian bagi penyedia platform transportasi online, di sisi lain juga menjadi koreksi atas lemahnya sistem yang mereka miliki.

“Saat ini Grab dan Go-Jek sama-sama berkembang pesat baik di ranah transportasi online maupun pnline food delivery, Tanah air. Akan tetapi, perhatian khusus harus diberikan terhadap aspek fraud demi menjamin perkembangan teknologi dan industri yang sehat,” pungkas Jeffrey Bahar. (red)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *