BP Migas Usulkan Beberapa Perbaikan Untuk Posko KESDM

IMG_20190619_163226-1152x648-576x324
JurnalNusantara.com – Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Fanshurullah Asa mengatakan, komitmen pemerintah terhadap ketersediaan bahan bakar minyak dan sektor kelistrikan selama kegiatan Satgas Posko Nasional ESDM Hari Raya Idul Fitri 1440 H tahun 2019 yang berlangsung selama 30 hari (21 Mei – 19 Juni 2019) adalah normal dan tidak terjadi kelangkaan BBM selama masa Posko.

Kondisi Penyaluran BBM sampai tanggal 18 Juni 2019 secara umum rerata penyaluran GASOLINE selama masa Posko ESDM (21 Mei – 17 Juni 2019) naik sekitar 9,29% dibanding rerata penyaluran normal selama masa posko 2019, dan selama masa Posko Nasional (29 Mei-12 Juni 2019) naik sekitar 15,11% dibanding rerata penyaluran normal, serta naik sekitar 2,5% dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM.

Sementara rerata penyaluran GASOIL secara keseluruhan (termasuk transportasi dan industri) selama masa Posko ESDM turun 14,36% dibanding rerata penyaluran normal selama masa posko2019, dan selama masa Posko Nasional turun 27,46% apabila dibanding rerata penyaluran normal, serta turun 1,27% apabila dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM. Gasoil khusus transportasi selama masa Posko ESDM turun 17,23% dibanding rerata penyaluran normal, dan selama masa Posko Nasional turun 34,68% dibanding rerata penyaluran normal, serta naik 2,2% dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM.

Secara rinci, tambah Fanshurullah, penggunaan Premium RON 88 selama masa Posko ESDM naik sekitar 8,15% dibanding rerata penyaluran normal, dan selama masa Posko Nasional naik 9,11%, serta naik sekitar 6,33% dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM. Untuk Pertalite RON 90 selama masa Posko ESDM naik sekitar 8,91% dibanding rerata penyaluran normal dan selama masa Posko Nasional naik 16,26%, serta naik sekitar 12,65% dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM.

Penggunaan Pertamax selama masa Posko ESDM naik sekitar 14,30% dibanding rerata penyaluran normal, dan selama masa Posko Nasional naik 27,38%, serta turun sekitar 30,69% dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM. Sementara untuk Pertamax Turbo RON 98 selama masa Posko ESDM naik sekitar 10,76% dibanding rerata penyaluran normal, dan selama masa Posko Nasional naik 12,37%, serta turun sekitar 25,72% dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM.

Untuk Solar, secara keseluruhan (termasuk transportasi dan industri) selama masa Posko ESDM turun sekitar 14,27% , dan selama masa Posko Nasional turun 27,62% dibanding rerata penyaluran normal, serta turun sekitar 0,64% dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM. Solar khusus transportasi selama masa Posko ESDM turun 17,2 % dibanding rerata penyaluran normal, dan selama masa Posko Nasional turun 35,31%, serta naik 3,62 % dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM.

Untuk Dexlite, selama masa Posko ESDM turun sekitar 26,99% dibanding rerata penyaluran normal dan selama masa Posko Nasional turun 32,39%, serta turun sekitar 30,34% dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM. Sementara Pertamina Dex selama masa Posko ESDM naik sekitar 9,7% dibanding rerata penyaluran normal dan selama masa Posko Nasional naik 11,8%, serta naik sekitar 8,37% dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM.

Kerosene, selama masa Posko ESDM turun sekitar 33,23% dibanding rerata penyaluran normal, selama masa Posko Nasional turun 41,63%, serta turun sekitar 33,14% dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM. Untuk Avtur selama masa Posko ESDM naik sekitar 7,85% dibanding rerata penyaluran normal, dan selama masa Posko Nasional naik 10,84%, serta turun sekitar 14,22% dibandingkan dengan penyaluran tahun 2018 selama masa Posko ESDM.

Kepala BP Migas berharap, Improvemen Kedepan untuk Posko KESDM diantaranya :
1. Kesiapan KIOSK BBM di jarak-jarak tertentu di tol harus dilengkapi modular, motoris, dan stok BBM yang cukup.
2.Agar dipertimbangkan penggunaan genset pada Modular dispenser (Tol Trans Sumatra) sehingga operasi aman.
3. Hose truk tangki untuk pengisian modular SPBU agar sesuai dengan spesifikasi tangki modular SPBU.
4. Diusulkan penggunaan sistem navigasi pada truk tangki BBM agar tidak terjadi kesalahan pengiriman.
5. Kebijakan penutupan Rest Area di tol Cikampek diusulkan untuk dikaji kembali karena Rest Area selain dimanfaatkan untuk tempat pengisian BBM, dimanfaatkan juga untuk tempat beristirahat dan orang-orang yang sakit
6.Pengelola jalan tol agar tidak mengenakan biaya sewa lahan SPBU Modular maupun kios dalam rangka pemenuhan kebutuhan BBM selama lebaran.
7.Diusulkan penerapan Vehicle Counting System di tol Lampung – Palembang dalam rangka mengurai/mengurangi penumpukan kendaraan.
8. Adanya pemberian insentif pada Petugas Satgas ESDM.
9.Adanya media center untuk Posko Nasional KESDM.
10. Adanya petugas Satgas yang ditempatkan di /Kementerian Perhubungan
11. Komunikasi yang intensif dan real time antara petugas monitoring lapangan dengan Petugas Posko. (red)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *