S.D. Darmono Luncurkan Buku Bringing Civilizations Together

IMG_20190704_102423-1152x648-576x324
JurnalNusantara.com – Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan President University menerbitkan buku ke-6 karya karya Dr. (HC) S.D Darmono. Buku berjudul Bringing Civilizations Together ini merupakan gagasan S. D. Darmono tentang kehidupan berbangsa.

S. D. Darmono adalah pendiri PT Jababeka Tbk.. perusahaan kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Buku-buku yang telah ditulis ataupun membahas profllnya. antara lain adalah Menembus Batas: Pemikiran, Pendapat, dan Visi Setyono Djuandi Darmono (2006),Think Big, Start Small. Move Fast (2009), One City One Factory: Mewujudkan 100 Kota Baru (2015), dan Building a Ship While Sailing (2017).

Buku ini memaparkan pembahasan mengenai manusia, etika, teknologi, politik, dan elemen-elemen kehidupan lainnya, yang kemudian diikat dalam suatu pembahasan terkait peradaban. Dalam buku ini, S. D. Darmono memilih suatu istilah teknis, yakni human processing factory, untuk mempertegas gagasannya bahwa membina manusia adalah kunci peradaban.

Prof. Dr. Budi Susilo Soepandji, Gubernur Lemhannas RI periode 2011-2016 mengungkapkan, buku ini wajib dibaca bagi siapa saja yang akan memimpin bangsa ini, terutama dalam mengolah tata ruang yang penuh tantangan dan hambatan terkait sumber daya manusia dalam menyongsong era industri 4.0.

“Apa yang disampaikan pak Darmono telah memberikan inspirasi bagi kita semua khususnya terkait tata ruang. Pemikiran sangat diperlukan bukan hanya akademis namun juga ditataran praktis. Kedua, beliau juga memberikan gambaran antara kekuatan Jawa dan luar Jawa dengan menjadikan Singapura sebagai role model,” ungkapnya, dalam acara launching dan bedah buku berjudul Bringing Civilizations Together, Kamis (4/7/2019) di Menara Batavia, Jakarta Pusat.
IMG-20190704-WA0020
Pendapat lain disampaikan Prof. Rhenald Kasali, pakar ekonomi dan bisnis. Menurutnya, salah satu kekuatan buku S. D. Darmono ini terletak pada konsistensinya menempatkan faktor manusia sebagai dimensi utama peradaban yang berpijak pada etika atau keluhuran budi. Sementara, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, Menteri Pertahanan 2000-2001 dan Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2013 menilai, buku karyanya ini diramu dari pengalaman dan perenungan yang mendalam. Selain bagus dan perlu, buku ini juga disajikan dengan narasi yang enak untuk dibaca.

Chandra Gautama, editor buku menjelaskan, secara garis besar buku tersebut menggambarkan bahwa peradaban terbentuk berawal dari cinta yaitu cinta akan kebijaksanaan dan pengetahuan yang menjelma menjadi etika dan hak-hak yang berbudi luhur. Yang menjadi pertanyaan, adakah kebijaksanaan yang tertinggi yang harus kita miliki untuk membangun sebuah bangsa?

“Kebijaksanaan yang tertinggi tidak lain adalah cinta itu sendiri yang wujudnya adalah melayani orang lain, minimal untuk keluarga sendiri,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. (HC) S.D Darmono berharap, apa yang terkandung dalam buku ini semoga bisa menjadi masukan bagi pemerintahan Jokowi. Ia menilai, untuk bisa maju depan dengan segala konsekwensinya, sebagai pemimpin, Jokowi harus berani mengambil kebijakan.

“Keberanian ini mesti kita tambah lagi dengan harapan mencapai target di tahun 2030 kita menjadi negara paling terkaya nomor 4 atau Nomor 5 supaya kita tidak ketinggalan dan betul-betul sejahtera,” pungkasnya. (my)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *