Kampus Perlu Dibebaskan Dari Infeksi Radikalisme

IMG_20190822_153007-1152x648-576x324
JurnalNusantara.com – Kekhawatiran terhadap masuknya faham-faham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila di kalangan masyarakat khususnya kampus perlu diwaspadai bersama. Pengamat Politik Islam UIN Jakarta, Dr. Bakir Ihsan berpendapat, untuk menghindari faham-faham yang masuk ke dalam kehidupan bermasyarakat termasuk kampus, salah satu cara adalah dengan meramaikan literasi-literasi kebangsaan dan kesadaran akan pentingnya berbangsa dan bernegara.

Ia mencontohkan, ketika lingkungan kampus minim akan kegiatan literasi kebangsaan, maka sangat besar kemungkinan untuk diisi dan didominasi oleh kelompok-kelompok yang dinilai berseberangan dengan ideologi Pancasila. Dalam kondisi seperti ini, peran orang tua untuk mengawal kehidupan anak-anaknya juga sangat diperlukan, jangan sampai terputus komunikasi antara orang tua dan anaknya.

“Kita harus mengambil langkah-langkah konstruktif diantaranya menggunakan peluang-peluang yang ada semaksimal mungkin sesuai porsi kita. Solusinya adalah bagaimana membangun sebuah bangunan yang bisa menaungi sebuah bangsa yang heterogen dan majemuk agar kita bisa ikut didalamnya,” ujar Bakir, dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh Kaukus Muda Indonesia (KMI) bertema Membongkar Infiltrasi Dakwah HTI Melalui Rekrutmen Mahasiswa di Kampus, Kamis (22/8/2019) di Jakarta.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Ainur Rofiq, Mantan HTI menceritakan bahwa HTI khususnya di tahun-tahun ajaran penerimaan mahasiswa baru, pasti akan semakin gencar untuk melakukan rekrutmen terhadap mahasiswa baru. Karena mereka merasa berjuang untuk mempertahankan eksistensinya agar dapat ikut mempengaruhi kebijakan publik. Caranya mereka tidak memakai baju HTI, tetapi memakai nama-nama organ taktis, seperti forum-forum kajian dan diskusi.

“Gerakan apapun tidak akan hilang jika ideologinya masih hidup. Demikian pula di lingkungan kampus, perlu ada upaya pengembalian sesuai basic akademiknya masing-masing dan pembebasan kampus dari infeksi ideologi yang datang dari luar,” jelasnya.

Sementara itu, Nasir Abbas, Mantan Jamaah Islamiyyah (JI) mengaku belajar banyak selama menjadi anggota JI yaitu belajar bagaimana merencanakan sebuah kekuatan, memimpin wilayah dan sebagainya. Menurutnya, Islam tidak dibangun hanya dengan dakwah saja namun bisa juga dengan angkat senjata. Di Indonesia seperti HTI dan JI tidak perlu lagi angkat senjata seperti halnya di negara lainnya.

“Soal radikal, tidak ada yang salah karena Indonesia bisa merdeka pun karena diperlukan radikal. Yang dilarang adalah radikalisme karena ada unsur politiknya ketika ada keinginan untuk merubah sistem yang sudah ada di Indonesia,” pungkasnya. (red)

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *